oleh

Heboh, PKL Pasar Basanohi Tolak Pembanguna Tambahan di Areal Pasar

SANANA, TMc- Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di Pasar Rakyat menolak pembangunan tambahan di areal pasar sayur Desa Fogi Kecamatan Sanana Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul).

Menurut PKL, pembangunan pasar sayur yang telah di bangun oleh pemerintah daerah dalam hal ini melalui Dinas Perindustrian dan Koperasi (Disperindakop) Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) yang saat ini di tempati itu tidak layak.

Pasalnya, bangunan pasar yang khusus untuk PKL yang menjual sayur mayur itu kini tidak layak di huni karena mengalami kebocoran pada atap dan saluran pembuangan air kotor di dalam banguman pasar tersumbat. Padahal pajak perbulan dan retribusi perhari di bayat oleh pihak PKL, namun keluhan sejumlah PKL yang berjualan di sekitat suda berulang kali kepada pemerintah daerah sampai saat ini tidak di indahkan, malah ada perencanaan bangun tambah lagi.

Pantauan media ini, pada Senin (03/08) tadi bertempat di lokasi bangunan pasar berisi tenda-tenda kecil di dalam bangunan pasar sayur mayur, sebab jikala turunnya hujan atap bangunan pasar tersebut mengalami kebocoran.

Rosmi Lek salah satu PKL yang berjualan di sekitar saat di wawancarai mengatakan. “kami (pedagang) bukan mau melawan pemerintah untuk menolak jangan membangu di areal pasar sini, tapi sebelumnya pihak pengelola pasar melarang kami (PKL) untuk jangan berjualan di depan banguna pasar karena itu lokasi jalan yang mau di kerjakan. Padahal kenyataannya lokasi yang di kosongkan katanya akan di bangun taman lagi. Katanya.

Lanjutnya. Bisa membangun tapi pemerintah harus perbaiki dulu bangunan pasar yang kami tempati saat ini, karena bangunan pasar yang kami tempati saat ini tidak layak di huni, sebab jikala musim hujan seperti skarang itu atap samua bocor makanya kami pasang terpal. Kalo tidak pasang terpal maka jualan kami akan basah dan pasti rusak, ungkapnya.

Bukan hanya bocor kata rusmi (PKL) pembangunan pasar yang di kami tempati saat ini saluran pembuangan air kotor juga tidak tau jalan kelur alias tersumbat makanya mengeluarkan bau busuk yang tidak dapan menyamankan saluran pernapasan kami sebagai penjual maupun pembeli yang datang berkunjung, padahal setiap hari kami bayar retribusi tapi tidak keluhan kami tidak di hiraukan oleh pemerintah, jelasnya dengan nada lantang.

Terpisah Munir H. Jafar salah satu pemilik petak yang berjualan beras yang telah mengalami kerugian hal tersebut di sebabkan karena bocornya atap bangunan hingha menembus kedalam petak beras sehingga sejumlah beras rusak dan tidak bisa di jual lagi “gara-gara atap banguna bocor sejumlah beras saya juga ikut basah dan rusak, padahal setiap bulan saya bayar pajak Rp 90.000,” ujarnya.

Tambah (PKL) kami meminta kepada Bupati Henrata Thes tolong di usahakan untuk perhatikan bangunan pasar yang saat ini kami tempati di lihat dari luar memang bagus tapi di dalamnya di kala musim hujan bocor dan kalau musim panas ibaratkan kita di dalam neraka,” ungkap para PKL. (bht)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed