oleh

Akibat Dosa Perusahan Barito Pasifik, Warga Waitina Menjadi Korban Banjir

SANANA, TMc- Banjir yang melanda Desa Waitina, Kecamatan Mangoli Timur, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Sabtu (04/07) menyebabkan 1 sarana pendidikan yakni, SMA Negeri 1 Mangoli Utara serta 120 rumah warga terendam banjir, dan 135 kepala keluarga harus di evakuasi.

Banjir terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi di wilayah hulu menyebabkan aliran air dari kali waigafu meluap mengikuti kali waisenga hingga tanggul jebol ke sisi kiri dan kanan. Karena itu, luapan air dengan ketianggian 80 centi meter hingga 1 meter merendam sejumlah wilayah dan rumah warga.

Di katakannya Kepala Desa Waitina SitajudinUmasangaji. pada tahun 1988, Desa Waitina pernah dilanda banjir yang terbilang cukup parah. Sejak saat itu, hingga memasuki tahun 2020, Desa Waitina kembali dilanda banjir. “Di tahun 2020 memang baru pertama kali, pada Sabtu (04/07) kemarin,” ungkapnya.

Banjir pernah melanda Desa Waitina yang disebabkan operasi perusahaan Barito Pasifik pada tahun 1976 dan 1988. “Korban akibat banjir itu pada 17 Agustus 1988. Jadi untuk saat ini, kondisi secara geografis, Desa Waitina sudah terancam banjir karena ulah perusahaan Barito Pasifik pada tahun 1976 waktu itu dan bisa di bikang Desa Waitina adalah langganan banjir di setiap musim hujan deras,” kesalnya.

Di sentil sial berapa banyak bantuan yang sudah masuk, Sirajudin mengungkapkan, saat ini Pemerintah Daerah sudah memberikan bantuan, ada juga tambahan bantuan dari Haji Saleh, Bakal Calon Wakil Bupati, dari Angkatan 99 dan Dinas Sosial.

“Yang dibutuhkan saat ini dari warga korban banjir adalah alat-alat dapur. Sementara bantuan masih terfokus di Sembako. Yang paling dibutuhkan adalah kompor. Memang sudah ada bantuan dari Camat Kota Sanana, Camat Fuata, yakni bantuan kompor kurang lebih 8 buah. Dan sebentar kita salurkan ke rumah-rumah yang sangat rawan, diantaranya 10 KK yang bedara di titik banjir,” papar Sirajudin.

Kalau sarana untuk fisik Lanjut Kades, warga bersama pihak BPDB dan Dinas PU sudah melakukan peringkisan untuk kali waigafu. “Kita juga masih membutuhkan bantuan alat dari Pemda untuk melakukan normalisasi pengalihan kali waisenga ke kali waigafu,” akunya.

Tambahnya, untuk antisipasi jangka panjang, maka Desa Waitina masih membutuhkan bronjong untuk bertahan dengan waktu yang panjang. “Kalau di musrembang Kecamatan kemarin, kita sudah usulkan pembuatan talud, dan Dinas PU Kepsul menyampaikan kepada kita di anggaran perubahan tahun 2020 akan diusahakan semaksimal mungkin untuk pembangunan talud,” tutupnya. (bht)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed