oleh

Soal Pembayaran Retribusi Sampah, DLH Diduga Bohongi Warga

WEDA, TMc- Sebagain warga Desa Vidi Jaya Kecamatan Kota Weda Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) sesalkan sikap Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pasalnya, DLH sendiri diduga telah melakukan pembohongan terhadap warga setempat.

Pembohongan yang dilakukan itu, terkait Uang Pembayaran Retribusi Sampah di Kota Weda.

Aci Warga Desa Fidijaya kepada Wartawan mengeluhkan, Di tahun kemarin pembayaran uang retribusi sampah hanya Rp. 50.000 sekarang sudah naik menjadi Rp. 90.000. “Saya melihat ada pembohongan yang di lakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Halteng kepada Masyarakat,” sesal Aci salah satu Warga Desa Vidi Jaya.

Kalau memang harga yang melonjak naik itu di gunakan untuk kepentingan Daerah, kata Aci silahkan saja asalkan DLH harus sosialisasi kepada Masyarakat. “Masa di tahun kemarin tong bayar Rp. 50 sekarang so Rp 90 yang lain Tahun kemarin bayar Rp, 30 sekarang so Rp. 75 sebenarnya yang benar itu yang mana,” tegas Aci.

Menurut dia, Ada permainan yang di lakukan oleh DLH, kalau kita mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) No 4 Tahun 2011 Tentang Retribusi Jasa Umum yang di dalamnya Tentang Retribusi Sampah, hanya 75 per bulannya, dan itu merata per semua golongan Usaha kecil dan besar sampai Rumah Tangga itu sama.

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Halteng, Syamsul Bahri saat di konfirmasi mengatakan, Jadi intinya di penetapan perda retribusi jasa umum, itu ada perda persampahan, cuman karena ini ada unsur pembinaannya, jadi penerapannya bergelombang,  kalau mengacu pada perda justru itu lebih murah dari perda.

Memang tidak ada sosialisasi kepada warga, namun sekarang sudah tidak ada lagi tarik retribusi, tapi Tim DLH yang langsung ke lapangan untuk memperlihatkan  ini jasa umumnya, karena Retribusi sampah itu pergolongan, ada kios, rumah makan, tokoh,  dan penginapan.

“Intinya torang lakukan pembinaan dulu, karena kenyataan di lapangan ada sebagian masyarakat yang tidak mau membayar retribusi,” ucapnya.

Kata Kadis,  memang DLH kendala di lapangan itu soal jasa pelayanan,  karena mobil cuman satu,  sehingga ada jam pelayanan yang di atur.

“Jadi warga lain ini, mereka tidak mengeluarkan sampahnya,  saat mobil datang untuk angkut,  ada yang malu hati mo kase kaluar ini yang menjadi sumber masalah,  padahal waktu angkut sampah itu mulai dari waktu subuh sampai jam 08.00 pagi,” tuturnya.

Ia berharap,  yang paling penting adalah perilaku masyarakat untuk berubah. “jadi saya pastikan kalau ada pelanggaran seperti itu saya akan tindak tegas,” jelasnya. (nho)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed